Menjadi guru yang profesional harus Bukanlah suatu hal yang mudah, karena seorang guru harus bisa dijadikan contoh oleh muridnya,, di samping itu memerlukan kemauan, kemampuan dan ketrampilan yang tinggi dan mau mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang bagus pada diri sorang pendidik..,,di dalam proses belajar mengajar seorang guru harus mampu menggunakan berbagai kiat dan strategi sesuai situasi dan kondisi.....

Minggu, 23 September 2012

STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF

-->
STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF
Oleh: zainal masri

  1. Pendahuluan
Strategi pembelajaran afektif merupakan suatu metode dalam proses pembelajaran yang menekankan pada nilai dan sikap yang diukur, oleh karena itu menyangkut kesadaran seorang yang tumbuh dari dalam.
Dalam pengaplikasian terhadap pembelajaran yang diberikan guru, dalam pemberian contoh terhadap yang diberikan guru hendaknya siswa difasilitasi dengan lingkungan yang baik, saya lihat sebagian sekolah, bahwasanya lingkungan sekitar sekolah tidak nyaman untuk melakukan pembelajaran yang afektif, dan juga lingkungan masyarakat, maka dari itu pembentukan sikap akan sulit dilaksanakan.
Misalnya ketika anak diajarkan tentang keharusan bersifat jujur dan disiplin, maka sifat tersebut akan sulit diinternalisasi manakala lingkungan diluar sekolah anak banyak melihat prilaku-prilaku ketidakjujuran dan ketidakdisiplinan. Walaupun guru sekolah begitu keras menekankan pentingnya sikap tertib berlalu lintas.
 Maka sikap tersebut akan sulit diadopsi oleh anak manakala ia melihat begitu banyak orang-orang yang melanggar lalu lintas, demikian juga walaupun disekolah guru-guru menerangkan dan menegaskan perlunya bagi anak untuk bekata sopan dan halus disertai contoh prilaku guru, akan tetapi sifat itu sulit diterima oleh anak manakala diluar sekolah begitu banyak manusia yang berkata kasar dan tidak sopan.
  1. Strategi pembelajaran Afektif
  1. Hakekat Strategi Pembelajaran Efektif
Strategi pembelajaran afektif merupakan suatu metode dalam proses pembelajaran yang menekankan pada nilai dan sikap yang diukur, oleh karena itu menyangkut kesadaran seorang yang tumbuh dari dalam.[1]
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang di akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.[2]

Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, tidak berada didalam dunia yang empiris, nilai tersebut berhubungan langsung dengan pandangan seseorang yang tidak bisa dilihat, diraba tapi bisa dirasakan langsung oleh  orang yang bersangkutan.
Oleh karena itu pada hakekatnya strategi pembelajaran afektif proses penamaan nilai-nilai yang positif pada peserta didik, yang diharapkan pada peserta didik tersebut mampu berbuat dan mempunyai pandangan yang dianggap tidak baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku artinya disini bahwa dalam strategi ini dituntut kesadaran dan kemauan bagi peserta didik untuk bisa mempunyai kepribadian baik, berprilaku yang sopan dan bretindak sesuai dengan norma yang telah ditetapkan.
Aspek afektif yang berhubungan dengan penilaian terhadap sikap dan minat siswa terhadap materi pembelajaran dalam proses pembelajaran sebab sikap dan minat siswa terhadap materi pembelajaran sangat berpengaruh dan saling berkaitan dalam hasil belajar siswa tersebut, betapa pintar guru dalam menguasai materi pelajaran, tetapi seleranya siswa kurang berminat, dan perhatian serta sikapnya terhadap materi pelajaran, maka pelajaran yang akan disampaikan tidak mencapai tujuan pembelajaran.
Hal ini bisa dilakukan oleh seorang guru dalam strategi ini yaitu menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran efektif yang bervariasi, yang bisa memancing minat perhatian serta kemauan peserta didik atas siswa. Misalnya menciptakan suasana dalam proses pembelajaran berlandaskan kekeluargaan dan menciptakan suasana girang dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu nilai pada dasarnya standar prilaku, ukuran yang menentukan atau kriteria seorang tentang baik atau tidak baik, indah atau tidak indah , layak atau tidak layak dan lain sebagainya. Sehingga standar itu yang akan mewarnai prilaku seseorang.
Dalam masyarakat yang cepat berubah seperti saat sekarang ini,  pendidikan nilai bagi anak-anak merupakan hal yang sangat penting, ini disebabkan pada era globalisasi dewasa ini, anak akan dihadapkan pada banyak pemilihan tentang nilai yang mungkin dianggapnya lebih baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu.
  Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui pembentukan sikap yakni kecendrungan seseorang terhadap suatu objek misalnya: jika seseorang berhadapan dengan suatu objek, ia akan menunjukkan gejala senang atau tidak senang, suka atau tidak suka terhadap objek tersebut.  Gulo (2005) menyimpulkan, tentang nilai sebagai berikut:
a.       Nilai tidak bisa diajarkan tapi diketahui dari penampilannya
b.      Pengembangan dominan afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif
c.       Masalah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat berkembang sehingga bisa dibina
d.      Perkembangan nilai atau moral[3]

Pernyataan senang atau tidak senang seseorang terhadap objek yang dihadapinya, akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahamannya(aspek mognitif) terhadap objek tersebut oleh karena itu tingkat penataan (kognitif) terhadap sesuatu objek dan kemampuan untuk bertindak terhadapnya (psikomotorik) turut menentukan sikap seseorang terhadap objek yang bersangkutan.
Sekurang-kurangnya ada dua macam kecakapan kognitif siswa sangat perlu dikembangkan secara khususnya yakni:
  1. Strategi belajar memahami isi materi pelajaran bagi peserta didik
  2. Strategi menjalani arti penting isi materi pelajaran dan pengaplikasiannya, serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut.
Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan kecakapan kognitif tetapi juga menghasilkan ranah afektif. Sebab kalau seorang siswa mempunyai kemampuan dalam pemahaman materi agama (kognitif) maka hal tersebut akan menimbulkan atau kesadaran, penilaian yang positif pada dirinya serta mampu menolak terhadap segala sesuatu yang akan membawa pengaruh buruk.
 Misalnya: seorang siswa mempunyai pengetahuan dan dapat memberikan penjelasan dari berbagai sudut bahwa mencuri tersebut tidak baik dan dilarang oleh norma apapun termasuk norma agama (aspek kognitif) berdasarkan pengetahuan itulah tidak suka melakukannya (aspek afektif) akan tetapi sikap negatif terhadap perbuatan mencuri baru bisa kita lihat dari tindakan nyata bahwa walaupun ada kesempatan untuk mencuri ia tidak akan pernah melakukannya.[4]
  1. Hakekat Pendidikan Nilai Dan Sikap
Sikap afektif erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki seseorang,  sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki seseorang. Oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran yang sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, dan lain sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa diraba, kita mungkin dapat mrngetahui dari prilaku yang bersangkutan, oleh karena itulah nilai pada dasarnya standar prilaku, ukuran yang menentukan atau kriteria seseorang tentang baik dan tidak baik, sehingga standar itu akan mewarnai prilaku seseorang.
 Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan oleh karenanya siswa dapat berprilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik atau tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Douglas graham (gulo, 2003) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu:
  1. Normatifizh adalah kepatuhan kepada norma-norma hokum
  2. Integralist adalah kepatuhan yang didasarkan kepada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional
  3. Fenomenalist adalah kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi
  4. Hedonist adalah kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri
Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normatifist sebab kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran yang akan dinilai, tanpa mempedulikan apakah prilaku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak.[5]
Thurstone & Chave (dalam Mitchell, 1990) mengemukakan definisi sikap yaitu, Sikap adalah keseluruhan dari kecenderungan dan perasaan, curiga atau bias, asumsi-asumsi, ide-ide, ketakutan-ketakutan, tantangan-tantangan, dan keyakinan manusia mengenai topik tertentu.
Pendapat Allport (1921) mengenai sikap lebih memperkaya pandangan yang dikemukakan sebelumnya. Menurut Allport sikap adalah kondisi mental dan neural yang diperoleh dari pengalaman, yang mengarahkan dan secara dinamis mempengaruhi respon-respon individu terhadap semua objek dan situasi yang terkait.
Menurut Krech & Crutchfield sikap adalah pengorganisasian yang relatif berlangsung lama dari proses motivasi, persepsi dan kognitif yang relatif menetap pada diri individu dalam berhubungan dengan aspek kehidupannya.
Dari berbagai defensi diatas maka dapat disimpulkan bahwa, Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berharga atau tidak berguna (sikap negatif).[6]
Sikap merupakan suatu kemampuan internal yang berperanan sekali dalam mengambil tindakan (action), lebih-lebih apabila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak atau tersedia beberapa alternatif (winkel 2004).
Pernyataan senang atau tidak senangnya seseorang terhadap objek yang dihadapinya, akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahamannya (aspek kognitif) terhadap objek tersebut. Oleh karena itu tingkat penalaran (kognitif) terhadap suatu objek dan kemampuan untuk bertindak terhadapnya (psikomotorik) turut menentukan sikap seseorang terhadap objek yang bersangkutan.
 Misalnya seseorang dapat memberikan penjelasan dari berbagai sudut bahwa mencuri itu tidak baik dan dilarang oleh norma apapun (aspek kognitif), berdasarkan pengalaman itu ia tidak suka melakukannya (aspek afektif), akan tetapi sifat negative dan sifat mencuri baru bisa kita lihat dari tindakan nyata walaupun ada kesempatan untuk mencuri ia tidak melakukannya, dan penilaian terhadap sikap negative terhadap mencuri itu lebih meyakinkan bahwa perbuatan mencuri itu memang tidak pernah ia lakukan, walaupun banyak kesempatan untuk itu.
     
  1. Model Strategi Pembelajaran Sikap
Setiap startegi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi yang problematic. Melalui situasi ini diharapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik, dibawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap:


    1. Model konsiderasi
Model konsiderasi (the condiration model) dikembangkan oleh Mc.Paul, seorang humanis, paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian.[7]
Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kebutuhan yang fundamental pada manusia adalah bergaul secara harmonis dengan orang lain, saling memberi dan menerima dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dengan demikian pembelajaran sikap pada dasarnya adalah membantu anak agar dapat mengembangkan kemampuan agar bisa hidup bersama secara harmonis, peduli dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (tepo salero).
Atas dasar asumsi diatas guru harus menjadi model didalam kelas dalam memperlakukan setiap siswa dengan rasa hormat, menjauhi sikap otoriter. Guru perlu menciptakan kebersamaan, saling membantu, saling menghargai dan lain sebagainya.
sImplementasi model konsideransi guru dapat mengikuti tahapan pelajaran seperti dibawah ini:
1)      Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ciptakan situasi “seandainya siswa mengalami masalah tersebut”.
2)      Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah melihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
3)      Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi
4)      Mengajak siswa untuk menganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan siswa
5)      Mendorong siswa merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
6)      Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang (interdisipliner) untuk menambah wawasan agar mereka dapat mengimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
7)      Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.
b. Model pengembangan kognitif
Model pengembangan kognitif (the cognitive development model) dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Model ini banyak diilhami oleh pemikiran jhon dewey dan jean piaget yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu. Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang melalui tiga tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari dua tahap:
1)      Tingkat prakonvensional
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingan sendiri artinya pertimbangan moral berdasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat, pada tingkat para konvensional ini terdiri atas dua tahap:
a)      Orientasi Hukum dan Kepatuhan.
Pada tahap ini prilaku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi, artinya anak hanya berpikir bahwa prilaku yang benar itu adalah prilaku byang tidak akan mengakibatkan hukuman. Dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negative.

b)  Orientasi Instrument – Relatif
Pada tahap ini prilaku anak didasarkan kepada rasa “adil” berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati. Dikatakan adil manakala orang membalas prilaku yang dianggap baik. Dengan demikian prilaku itu didasarkan kepada saling menolong dan saling memberi.

2)      Tingkat Konvensional
Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarakat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa prilaku itu sesuai dengan norma-norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat, dengan demikian pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada tingkat konvensional itu mempunyai dua tahap:
a)      Keselarasan Interpersonal
Pada tahap ini ditandai dengan setiap prilaku yang ditampilkan individu yang didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain. Kesadaran individu mulai tumbuh bahwa ada orang lain diluar dirinya untuk berprilaku sesuai dengan harapan. Artinya anak sadar bahwa ada hubungan antara dirinya dengan orang lain. Dan hubungan itu tidak boleh rusak.
b)      Sistem Social dan Kata Hati
Pada tahap ini prilaku individu bukan berdasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, akan tetapi berdasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat, ini berarti telah terjadi pergeseran dari kesadaran individu kepada keadaran social yang mengatur prilaku individu.
3)      Tingkat postkonvensional
Pada tingkat ini rilaku individu berdasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya secara individu, seperti pada tingkatan sebelumnya, pada tingkat ini terdiri juga atas dua tahap:
a)      Kontrak Social
Pada tahap ini prilaku individu berdasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui dimasyarakat. Kesadaran individu untuk berprilaku tumbuh karena kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip social. Dengan demikian kewajiban moral dipandang sebagai kontrak social yang harus dipatuhi bukan sekedar pemenuhan system nilai.
b)      Prinsip Etis yang Universal
Pada tahap terakhir, prilaku manusia didasrkan pada prinsip-prinsip universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkansegala kontrak social yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan kepad suatu kewajiban sebagai manusia. Setiap individu wajib menolong orang lain. Apaka orang itu sebagai orang yang kita benci ataupun tidak, apakah orang itu kita cintai atau tidak,, orang yang kita suka atau tidak, pertolongan yang diberikan bukan didasarkan pada kesadaran yang bersifat universal.
 Sesuai dengan prinsip bahwa moral terjadi secara bertahap, maka strategi pembelajaran model kohleberg diarahkan untuk membantu agar setiap individu meningkat dalam perkembangan moralnya.

c. Teknik Mengklarifikasi Nilai
Teknik mengklasifikasi nilai (value clarivication technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan status nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.
Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah poses pembelajaran yang dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa, akibatnya sering terjadi benturan dan konflik dalam diri siwa karena ketidak cocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru.

 Siswa sering sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam pembelajaran siap adalah proses penamaan nilai yang dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada. Sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru hendak ditanamkan.

VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral VCT bertujuan: 
1)      Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa terhadap nilai.
2)      Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya, baik tingkatan maupun sifatnya (positif atau negatif) untuk kemudian dibina kearah peningkatan dan pembetulannya.
3)      Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut menjadi milik siswa.
4)      Melatih siswa bagaimana cara menilai, menerima serta mengambil keputusan terhadap suatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dimasyarakat.
John jarolimex (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan VCT dalam tujuh tahap yang dibagi kedalam tiga tingkatan, setiap tingkatan dijelaskan dalam tahap ini.:

a)      Kebebasan memilih
Pada tingkatan ini terdapat tiga tahap:
1)      Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik, nilai yang dipaksakan tidak menjadi miliknya secara penuh.
2)      Memilih dari beberapa alternative, artinya untuk menentukan pemilihan dari beberapa alternative pilihan secara bebas
3)      Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya
b)  Menghargai
Terdiri dari dua tahap pembelajaran:
1)      Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian integral dari dirinya.
2)      Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya didepan umum, artinya bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkan didepan orang lain.
c)  Berbuat
Terdiri atas:
1)      Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya
2)      Mengulangi prilaku sesuai dengan nilai pilihannya, artinya nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

VCT menekankan bagaimana sebenarnya seorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai prilakunya dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat. Dalam praktis pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan siswa, proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana langsung dan terbuka, sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya, beberapa yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog:
a.       Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasehat, yaitu pemberian pesan-pesan moral yang menuntut guru dianggap baik
b.      Jangan memaksa siswa untuk memberi respon tertentu apabila memang siswa menghendakinya
c.       Usahakan dialog dilakukan secara bebas dan terbuka, sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya
d.      Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas
e.       Hindari respon yang dapat menyebabkan siswa terpojok sehingga ia menjadi despensif
f.       Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu
g.      Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam
4. Kesulitan Dalam Pembelajaran Efektif
Disamping aspek pembentukan kemampuan intelektual untuk membentuk kecerdasan peserta didik dan dan pembentukan keterampilan untuk mengembangkan kompetensi agara peserta didik memiliki kemampuan motorik, maka pembentukan sikap peserta didik merupakan aspek yang tidak kalah pentingnya, ada beberapa kesulitan yang disebabkan dalam proses pembelajaran dan pembentukan akhlak, yaitu:
  1. Selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku, cenderung diarahkan untuk membentuk intelektual, akibatnya upaya yang dilakukan oleh seorang guru diarahkan kepada bagaimana anak dapat menguasai pengetahuan sesuai dengan standar isi kurikulum yang berlaku, oleh karena kemampuan intelektual identik dengan penguasaan materi pelajaran.
  2. Sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang, pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun model bukan hanya ditentukan oleh factor guru, akan tetapi terutama dari factor lingkungan.
  3. Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera, berbeda dengan pengembangan aspek kognitif, an aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah pembelajaran berakhir, maka keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat dari rentang waktu yang cukup panjang.
  4. Pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak.[8]

Daftar Pustaka



Wina Sanjaya. Pembelajaran dalam Implementaasi. KBK. Jakarta: Kencana
Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Afektif. Jakarta: Kencana
Http// Raudlatul Mubtadin. Strategi Pembelajaran Afektif.20 november 2009
Http// Sukarto. Strategi Pembelajaran Afektif tentang Nilai dan Sikap. Html . 28 maret 2010
www. Ilmu Kami.co.cc/ 2010/11 spa. Html. Strategi Pembelajaran Afektif. 04 November 2010
Ahkmad Sudrajat. Strategi Pembelajaran yang Afektif. 8 mei 2008

























[1]Wina Sanjaya, 2007, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana. Hal 272
[2]Raudlatul Mubtadiin, Strategi Pembelajaran Afektif, http// Praudlatul Mubtadiin.Wordpress.20 November 2009
Raudlatul mubtadiin, Strategi Pembelajaran Afektif, http// ppraudlatul mubtadiin. Wordpress.20 November 2009. Html
[4] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi KBK, Jakarta: Kencana hal 135
[5] Raudlatul Mubtadiin. Strategi Pembelajaran Afektif, http// Ppraudlatul Mubtadiin Wordpress.20 November 2009

[6] Ilmu Kami, Strategi Pembelajaran Afektif,  04 Nov 2010, http// www. Ilmu kami.co.cc//2010/11 .html
[7] Sukarto. 28 maret 2010. Strategi Pembelajaran Afektif Nilai. http// blog spot. com
[8] Ahmad Sudrajat. 8 mei 2008. Model Strategi Yang Afektif. http// Akhmadsudrajat. Word press. com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar